Belajar Dari Rumah Tak Harus Online dan Akademis Ini Kata Menteri Pendidikan

Semenjak pemerintah memberlakukan kebijakan social distancing yang juga di kenal dengan work from home (WFH). Akibatnya tidak hanya aktivitas bekerja saja, namun kegiatan belajar dan beribadah pun juga dilakukan didalam rumah. Negara lain mungkin menyebut hal ini sebagai karantina mandiri.

Karena di lakukan dirumah, maka kegiatan belajar secara otomatis mengalami penyesuaian agar tetap bisa berjalan dengan efektif.  Salah satu yang dilakukan adalah dengan melakukan belajar online, baik dengan video call atau memberi tugas harian lewat aplikasi WhatsApp.

Namun baru berjalan kurang lebih selama seminggu, telah banyak keluhan dari sejumlah orangtua yang mengalami kesulitan untuk memenuhi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tersebut. mulai dari akses internet hingga banyaknya tugas-tugas yang diberikan oleh guru.

Menanggapi keluhan berbagai variasi teknis belajar dari rumah tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) mengimbau kepada para guru agar mewujudkan pendidikan yang bermakna di rumah. Artinya guru tidak dianjurkan hanya berfokus pada capaian akademik atau kognitif semata.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, untuk area-area yang positif Covid-19, Kemendikbud menganjurkan murid belajar dari rumah dan gurunya mengajar dari rumah.

“Itu sudah jelas dan sikap kami akan selalu konsisten. Tapi ini kan haknya tiap daerah untuk [merumahkan] sekolah, tapi arahan dari kemendikbud selalu tegas dan jelas bahwa daerah ada yang positif corona harus segera meng-organize untuk belajar dari rumah,” imbuhnya dalam konferensi online di Jakarta, Selasa (24/3/2020).

“Bagi semua guru, anak, dan bagi kemendikbud, kita tidak mengantisipasi ini terjadi begitu cepat, artinya semua harus belajar sangat cepat bagaimana bisa beradaptasi terhadap belajar dari rumah,” papar Nadiem.

Karena belajar online adalah hal baru di Indonesia, maka memang sedikit sulit dan orangtua serta murid harus bisa beradaptasi. Namun untuk menghindari kemungkinan siswa, orangtua maupun guru menjadi stres, Nadiem mengatakan belajar dari rumah bukan berarti harus 100 persen online.

Para guru dan kepala sekolah diminta kreatif untuk bisa menangani keterbatasan yang ada. Apalagi di daerah yang tidak memiliki akses pada smartphone.

“Kami juga menganjurkan guru untuk membimbing anaknya tak hanya memberikan PR tapi membimbing,” kata Nadiem.

“Jangan terlalu berfokus pada aspek akademik, tapi ada penekanan pada life skill, karakter, dan sebagainya. Ini output yang baik untuk kita bicarakan ke depannya,” tuturnya.

Belajar Dari Rumah Tak Harus Online dan Akademis Ini Kata Menteri Pendidikan
Aturan Pembelajaran Jarak Jauh

Aturan lebih jelas mengenai PJJ diatur dalam Surat Edaran Mendikbud nomor 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa darurat Penyebaran Coronavirus Disease (covid-2019).

Dalam poin 2 surat edaran tersebut dijelaskan, Proses Belajar dari Rumah dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Belajar dari Rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

2. Belajar dari Rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19.

3. Aktivitas dan tugas pembelajaran Belajar dari Rumah dapat bervariasi antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/ fasilitas belajar di rumah.

4. Bukti atau produk aktivitas Belajar dari Rumah diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor/ nilai kuantitatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *