Dampak Pandemi Corona, Kesenjangan Digital Pendidikan Makin Terlihat

Dampak Pandemi Corona, Kesenjangan Digital Pendidikan Makin Terlihat

Salah satu dampak yang paling terasa dari pandemic corona didunia adalah perubahan aktivitas manusia  terutama dalam hal mobility. Jika dulu seseorang bisa bebas pergi kemanapun dan kapanpun, kini pergerakan manusia menjadi hal paling diperhatikan oleh negara.

Tak sedikit bahkan yang menerapkan aturan lockdown dan melarang warganya untuk keluar rumah kecuali untuk membeli bahan makanan. Akibatnya, aktivitas seperti belajar, bekerja hingga beribadah pun terpkasa dilakukan dirumah.

Tentu bukanlah hal yang mudah mengingat ini adalah sebuah pengalaman yang baru dirasakan oleh generasi terkini. Namun berkat kemajuan di biadng teknologi, aktivitas tersebut masih bisa berjalan dengan menggunakan system online.

Mengutip data dari Sensor Tower, terjadi lonjakkan yang cukup signifikan dari jumlah unduhan aplikasi kategori bisnis dan pendidikan yakni masing-masing sebesar 128 dan 125 persen pada kuartal pertama 2020.

Sebuah angka yang cukup tinggi dibanding hari biasa. Tuntutan dari pekerjaan atau lembaga pendidikan membuat masyrakat harus beradaptasi dengan mengunduh aplikasi-aplikasi tersebtu.

Dibidang pendidikan, karena tidak diperbolehkan sekolah namun kegiatan belajar mengajar tetap harus berjalan, maka para guru pun berinisiatif melakukannya lewat online. Sayangnya strategi ini tidak berjalan mulus

Salah satu sebabnya dikarenakan kesenjangan dalam dunia pendidikan terutama dalam hal digital .

Mengapa demikian? Simak pembahasannya dibawah ini

Kesenjangan Digital Dalam Pendidikan di Indonesia

Dampak Pandemi Corona, Kesenjangan Digital Pendidikan Makin Terlihat

  1. Teknologi termasuk barang mewah
    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018, sebanyak 66,22 persen rumah tangga di dalam negeri memiliki akses internet. Sebesar 62,41 persen mempunyai telepon seluler, sedangkan hanya 20,05 persen yang memiliki komputer. Mayoritas tinggal di perkotaan di Pulau Jawa dan Kalimantan.

    Bagi sebagian orang yang tidak masuk dalam daftar tersebut tentulah keluarga yang tidak mampu dan menganggap teknologi sebagai barang mewah.

  2. Murid dari keluarga tak mampu paling terkena dampak

    Banyak guru yang mendapat keluhan dari para orangtua terkait pembelajaran via online. Salah satunya karena harus membeli kuota internet sendiri. Mengingat tidak semua orang memiliki pekerjaan yang mapan. Ada banyak murid yang orangtuanya berprofesi sebagai upah harian. Dengan keadaan pandemic ini tentu mengeluarkan uang untuk membeli kuota terasa berat.

Akibatnya murid juga merasakan kesulitan dalam belajar. Salah satunya dengan berusaha mendapat kuota internet gratis. Dan yang lebih parah tentunya bagi murid yang belum memiliki HP

Sehingga para guru harus memutar akal dengan menyediakan materi belajar bentuk lembaran. Akibatnya tentu akan berbeda antara murid yang ikut belajar online secara intensif dengan yang hanya bermodal materi dari guru.

Situasi pandemik yang tidak ada kepastian kapan berakhir tentu membuka perspektif baru bagi masyarakat mengenai kesenjangan teknologi ini.

Seharusnya Internet bukan lagi sesuatu yang mewah, melainkan barang publik yang berhak dimiliki oleh setiap orang tidak peduli berapa pendapatannya dalam sebulan atau di mana ia tinggal. Pemerintah harus bisa berupaya agar semua warganya menikmati kemajuan digital dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *